Raut haru dan syukur terpancar dari wajah sejumlah ibu rumah tangga dan janda di Desa Lenteng Barat, Kecamatan Lenteng, Kabupaten Sumenep, saat menerima bantuan sembako yang disalurkan oleh PAC Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Kecamatan Lenteng.
Bantuan yang merupakan program dari anggota DPR RI, Said Abdullah, itu menjadi berkah tersendiri bagi warga yang tengah berjuang memenuhi kebutuhan sehari-hari, terlebih di tengah kondisi ekonomi yang tidak mudah.
Salah satu penerima bantuan, Hawani, seorang janda warga Lenteng Barat, mengaku sangat bersyukur atas bantuan yang diterimanya. Dengan suara pelan dan mata berkaca-kaca, ia menyampaikan rasa terima kasihnya.
“Alhamdulillah, bantuan ini sangat berarti bagi kami. Terima kasih kepada PAC PDIP Lenteng dan kepada Bapak Said Abdullah yang telah peduli kepada kami,” ujarnya.
Hal senada juga disampaikan Tamimah, janda lainnya yang ikut menerima bantuan. Ia mengaku tidak menyangka akan mendapatkan perhatian seperti itu.
“Bagi kami yang hidup sederhana, bantuan sembako seperti ini sangat membantu kebutuhan di rumah. Semoga kebaikan ini dibalas oleh Allah SWT,” katanya penuh haru.
Sementara itu, Saniyah, seorang ibu rumah tangga di desa tersebut, juga menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam. Ia menilai kehadiran kader PAC PDIP Lenteng yang turun langsung ke masyarakat menjadi bukti kepedulian terhadap warga kecil.
“Kami sangat berterima kasih. Bantuan ini sangat bermanfaat bagi keluarga kami. Semoga Bapak Said Abdullah dan semua yang terlibat selalu diberi kesehatan dan rezeki yang berlimpah,” tuturnya.
Kegiatan tersebut menjadi momen penuh kehangatan antara kader PAC PDIP Lenteng dan masyarakat. Tidak hanya sekadar menyalurkan bantuan, pertemuan itu juga menjadi ruang silaturahmi yang mempererat hubungan antara warga dan para kader yang turun langsung ke tengah masyarakat.
Di tengah kesederhanaan desa, rasa syukur dan harapan pun mengalir dari para ibu dan janda yang merasakan langsung uluran tangan kepedulian tersebut. Bagi mereka, bantuan itu bukan sekadar sembako, melainkan tanda bahwa masih ada yang peduli dengan kehidupan mereka.