Entah kenapa, sejak pagi hati rasanya penuh sekali.
Bahagia karena akhirnya Anam sampai di titik ini, tapi di saat yang sama ada rindu yang diam-diam sesak di dada.
Di tengah ramainya keluarga, tamu yang datang silih berganti, suara tawa, dan doa-doa yang mengiringi hari bahagia ini, ada satu sosok yang paling terasa tidak ada.
Biasanya orang ini yang paling sibuk.
Paling capek.
Tapi juga paling bahagia.
Saya masih ingat Anam yang dulu.
Yang masih suka bercanda di rumah, kadang bikin kesal, kadang dimarahi, kadang juga jadi yang paling dicari kalau suasana rumah mulai sepi.
Sekarang ternyata Anam sudah sejauh ini.
Sudah duduk bersanding bersama Zulfatul Hidayah.
Waktu memang tidak pernah menunggu siapa pun.
Sebagai keluarga, saya cuma bisa melihat dan berdoa semoga langkah Anam hari ini benar-benar menjadi awal yang baik.
Semoga rumah tangganya penuh sabar, penuh rezeki, dan selalu saling menguatkan sampai tua nanti.
Tapi jujur,
Di hari seperti ini, kami sadar satu hal.
Rindu ternyata bisa datang di tengah kebahagiaan.
Kadang kami tersenyum, lalu tiba-tiba diam.
Karena tanpa sadar mata mencari seseorang yang seharusnya ada di sini hari ini.
Seseorang yang mungkin diam-diam paling bangga melihat Anam akhirnya menjadi seorang suami.
Dan sampai detik ini, rasanya kami masih belum terbiasa menjalani momen besar keluarga tanpa beliau.
Untukmu Bapak.
Terima kasih karena sudah menjadi rumah pertama bagi kami.
Terima kasih untuk semua perjuangan yang mungkin dulu tidak sempat kami balas dengan sempurna.
Hari ini anakmu menikah.
Anam sudah tumbuh dewasa.
Doa kami tidak pernah berubah, semoga Allah selalu melapangkan kuburmu, mengampuni segala khilafmu, dan mempertemukan kita lagi di tempat terbaik nanti.
Untuk bapak kami tercinta,
Zahiruddin.